BBM naik “beberapa” minggu yang lalu. Iya, emang telat mau komentar, tapi ini nggak mau komentar, cuma curhat…
KApan lalau ngobrol sama temenku, Tio, dia nggresulo masalah bbm naik.
Tio : Hah, kampret bbm naik, semua ikut naik, listrik naik, biaya angkutan naik, jan edan.
Aku : ya udahlah, namanya keadaan kaya gini, kalau kamu mau ngubah ya sana kaw jadi presiden.
Tio : jangan cuma ya udah, mikir dunk.
Aku : kan udah tak kasih tahu, kalau nggak puas sana kaw nyalon jadi presiden, ntar gw coblos dah. Lagian kan nggak semua harga naik…
Tio : Halah, nggak semua gimana, hampir semua naik, coba apa yang nggak naik?
Aku : Tiket prameks? Bus trans jogja? siomay yang biasa lewat itu? banyak kok yang ga naik…
Tio : halah, itu kan usaha yang terlalu gede dan terlalu kecil, kalau yang “sedengan, sedengan” kaya warnet…
Aku : itu, kantin fisip? ndak naik tuh harga harganya, terus warnet-warnet di daerah demangan, ga naik juga kan?
Tio : halah… itu mah udah kelewat mahal, apanya coba yang mau dinaikin?
Aku : … (mikir bentar terus nyodorin duti 14k)
Tio : he?
Aku : ngomong aja, kaw mau ke semarang tapi ndak mau beli bensin kan? nih 14k buat naik kereta ke semarang.
Tio : Tau aja lu… hehe (nyamber duit 14k terus ngeloyor pergi…)
Edan… Cuma gara-gara bbm naik, banyak yang ikutan naik. Sebetulnya aku lebih suka menyebutnya turun. BBM turun woy… (subsidinya
). Ketergantungan kita sama yang namanya BBM kliatannya udah sangat parah.
Tapi kok nyebutnya BBM ya? kenapa nggak BBB (Bahan Bakar Bensin), BBP (Bahan Bakar Premium), atau BBS (Bahan Bakar Solar). Kalau karena asalnya dari minyak terus dinamain BBM (Bahan Bakar Minyak), rasanya kok agak gimana gitu, kenapa nggak yang lebih asalnya BBF (Bahan Bakar Fosil) karena katanya minyak mentah itu datangnya dari fosil. Atau mungkin lebih sebelumnya lagi, BBD (Bahan Bakar Dinosaurus) karena fosilnya fosil dinosaurus kan? iya nggak sih???
Heran sebetulnya aku sama yang namanya manusia. Dulu pas jamannya K3 (Kuda Kebo Keledai) dijadiin sarana transportasi, hidup kita enak, nyaman, nggak usah mikir yang enggak-enggak kaya stroke, sakit jantung, kolesterol, bom nuklir, dll dsb lsp. Sekarang pas K3 diganti HTYSF…. (Honda Toyota Yamaha Suzuki Ferarri…). Emang sih jadi lebih adem kalau di dalam mobil, tapi jadi lebih panas pas di luar mobil… Kenapa ya? katanya sih karena pemanasan global… Yang nyebabin? ya itu salah satunya asap kendaraan.
Duh Bingung ah…
Naik motor salah, nggak naik motor salah. Ya udah, kalau pas bisa nggak naik motor, aku naik sepeda aja, menyakiti diri sendiri dan menumpuk penyakit di tubuh dengan menghirup lama-lama asap knalpot di jalan raya karena nggak bisa cepet jalannya. Tapi paling nggak bisa membenahi hati biar nggak terlalu grusa-grusu, biar lambat asal nggak telat dan selamat. Dan juga melatih hati untuk sabar, sabar kalau dari belakang di klakson truk, sabar kalau hampir kesrempet motor yang nekat nyempil, nyempil lewat lajur kiri jatah tukang sepeda, dan sabar kalau ada cewe teriak-teriak “aiihhh imutnya yang naik sepedaaa…..”.
Toh, lama juga nggak apa-apa kan? banyak kok yang pengennya lama, acara TV yang bagus pengennya nggak cuma 1 jam, tapi jadiin 12 jam (padahal coba tonton 3 jam, pasti dah eneg liat mukanya Aming mlulu…- woot, no flame loh ya), terus kalau malam pertama pastinya pengen lama selama lamanya….
ah bingung aku…
:: Piko ::